logoblog

Cari

Tutup Iklan

Menelan Rindu Di Bawah Hujan

Menelan Rindu Di Bawah Hujan

1/ Gelegar Guntur, pecah sepi malam ini. Cahaya kilat memecahkan kabut pekat angkasa raya. Sepertinya malaikat Mingkail tengah asyk mengepakkan sayapnya

Puisi

KM. Sukamulia
Oleh KM. Sukamulia
08 November, 2018 22:01:53
Puisi
Komentar: 0
Dibaca: 1462 Kali

1/

Gelegar Guntur, pecah sepi malam ini. Cahaya kilat memecahkan kabut pekat angkasa raya. Sepertinya malaikat Mingkail tengah asyk mengepakkan sayapnya seraya bertitah kepada langit untuk turunkan air matanya yang begitu lama dipendam sebagai tangisan kerinduan.

2/

Tangisan kerinduan langit, itulah rahmat dan jawaban atas kerinduan insan akan kesejukan. Kesejukan bagi jiwa yang begitu lama terkoyak panas keangkuhan diri. Kesejukan bagi jiwa yang begitu lama terbakar api pertikaian.

3/

Malam ini, sayap-sayap Mingkail terangi suramnya wajah langit dan bumi. Satu per satu buti hujan sampai ke bumi. Deras dan semakin deras. Sesaat debu-debu itu terlelap dan bermimpi indah. Tapi tidak mereka, ya tidak bagi mereka. Mereka resah, tidak bisa membaringkan badan dan terlelap di bawah derasnya hujan.

4/

Tenda pengungsian dan huntara mereka telah lusuh menunggu realisasi janji. Atap dan pagar tenda mereka sudah lama robek diterjang angin dan dibakar terik mentari. Mereka tidak bisa terlelap di bawah derai air mata langit yang sesungguhnya mereka sangat rindukan.

5/

Tuhan, maafkan kami yang tidak mensyukuri nikmat mu. Hujan ini memang teramat sangat kami rindukan. Namun di sisi lain, datangnya tidak kami inginkan. Demikianlah, baris-baris kata yang terucap dari sela bibir mereka sambil sibuk menepis butir hujan yang mengguyur alas tidur mereka yang tergelar di bawah terpal pengungsian.

6/

Hujan malam ini membawa ketakutan. Ketakutan yang begitu besar bagi mereka yang sementara waktu atau entah selamanya akan merajut mimpi di tenda pengungsian sebab kediaman mereka telah dirampas oleh guncangan.

 

Baca Juga :


7/

Seharusnya wajah mereka berseri menyambut turunnya hujan. Namun sayang seribu sayang, muram durja yang tergambar. Mereka tidak bisa lagi merajut mimpi di bawah derasnya hujan.

8/

Tuan, tidakkah kalian kasihan ? Tidakkah kalian iba atas nasip mereka yang demikian ? Tidakkah kalian bisa mensegerakan janji manis yang pernah kalian ucapkan untuk menghibur mereka di kala mereka terpuruk akibat bencana yang tidak pernah mereka rindukan.

9/

Tuan, janganlah kalian biarkan mereka terus-terusan menelan rindu di bawah derasnya hujan sedangkan tuan tertidur pulas dalam kemewahan.

10/

Semoga kerinduan mereka bukan sekedar kerinduan. Janji tuan sangat mereka haarapkan. Dan tolonglah tuan, jangan biarkan mereka bimbang dalam ketidak pastian.

_By. Asri The Gila_



 
KM. Sukamulia

KM. Sukamulia

Nama : Asri, S. Pd TTL : Sukamulia, 02 Januari 1985 Jenis Kelamin: Laki-laki Agama : Islam Pekerjaan : Swasta Alamat, Dusun Sukamulia Desa Pohgading Timur Kec. Pringgabaya No HP : 082340048776 Aku Menulis Sebagai Bukti Bahwa Aku Pernah Ada di Dunia

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright 2008 - 2018 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan