logoblog

Cari

Mau dinikmati tapi menolak untuk dimiliki

Mau dinikmati tapi menolak untuk dimiliki

Mau dinikmati tapi menolak untuk dimiliki                       sumber Gambar : BlogBungo

Puisi

Mau dinikmati tapi menolak untuk dimiliki


Hendrawansyah (SIMON)
Oleh Hendrawansyah (SIMON)
25 Desember, 2018 01:45:15
Puisi
Komentar: 0
Dibaca: 4675 Kali

Mau dinikmati tapi menolak untuk dimiliki

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

sumber Gambar : BlogBungo

 

 

Hujan Sesal..

Aku mengadu pada hening bulan Januari..

Relung hati bicara memupuk rasa kasih dan sayang.

Dulu di antara kita pernah teruntai kata cinta. Namun, di penghujung jalan engkau menghilang tanpa bekas.

Rasa rindu mendekap sayu nan pilu.

Mengitari akal sehatku bila mengingatmu.

Entah guyonan atau malapetaka yang Aku pahami hanyalah cinta. Karena bagiku mengenalmu keharusan hukum Alam dan berkisar pada lingkaran suatu hubungan.

Dan naluriku bertanya, ”Sampai kapan Aku menjadi pengemis yang setiap detik mengharapkan sebuah senyumanmu?

Jika memang mencintaimu adalah sebuah dosa besar, maka biarkan aku menanggung segala lara dengan derita sekujur air mata sambil meratap.

 

Baca Juga :


Dan bahkan entah cacian apa yang pantas buatku hingga pada suatu saat, diriku tak lagi mengingatmu dalam benakku. Berdosa jika aku menyebut namamu dalam sumpahku.

coretan ini adalah cerita yang mengadu pada sunyi. Kisah seorang lelaki malang yang setiap detik mengharapkan pelangi padahal ia bagaikan langit yang mendung.

Kadang kejenuhan membisik dengan lembut agar memusnahkan harapan karena terlalu jauh ku raih pelangi yang membentang indah di ketinggian langit.

Aku dan setiap malamku mengikuti sunyi dan termenung meratap sebuah mimpi dengan segenap kesadaran bahwa engkau adalah ketidakpastian yang ku perjuangkan.

Aku begitu rindu..

Aku rindu kelembutan sentuhanmu.

Engkau yang dulu pernah membersihkan kuku-kuku panjangku dan melarangku untuk tidak begadang sampai larut malam.

Apakah engkau masih selembut dahulu?

Dulu kita pernah menghabiskan separuh malam hanya untuk merasakan ketenangan. Melebur bersama sunyi serta pelukan yang begitu dalam. Begitu indah" ucapku.

Engkau pun merasakan kenyamanan dengan menjadikan bahuku sebagai sandaran. Engkau meletakan dan menyerahkan segalanya padaku.

Semakin malam pelukan kita semakin dalam dan kita terkapar dalam desahan nafas yang mulai tak terarah dan mati tenggelam dalam kecupan yang hilang.

Aku ingin menepi, dan beristirahat sejenak. Menghembuskan sisa-sisa harapanku untukmu. Harapan yang begitu besar lalu dengan seketika engkau menghancurkannya dengan mengatakan; Aku bukan kekasihmu."ucapmu!

Lalu kau anggap apa setelah sejauh dan sedalam ini kita melangkah?

Mengapa menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki?

Akhirnya kaupun hilang. Dan kini hanya kenangan satu-satunya masa depan yang tersisa.

 

 

Kalikuma 04 Januari 2017

Penulis; Hendra_W

 



 

Artikel Terkait

0 KOMENTAR

Belum ada komentar.
Berikan Komentar Bermanfaat Meski Satu Kalimat
 
 

TULIS KOMENTAR

Silahkan Login terlebih dahulu untuk mengisi komentar.
 
Copyright © 2008-2019 | kampung-media.com. All rights reserved.
 
Tutup Iklan