MANTAR, Senandung Negeri Di Awan


Silam...
takdir menorehkan hikayat samar nan pilu, menghempas karang tua nanga limung gading, mengguncang sanubari dan jejakpun sirna ditelan sapuan gelombang.
Punggung ramoi, disanalah bersemayam jazad para leluhur, tanah pusaka para albino, pewaris kesakralan dan keberkahan Ai mante.
Terpatri keyakinan dalam diri, akan kesejatian tuah pusaka sepanjang zaman.
Nun disana, dipuncak bukit kebersahajaan, dibalik megamega, senyum mengembang melukiskan asa dan harapan tiap insan, penghalau halimun dikala pagi perona senja kala temaram.

Diujung pamanto terucap takjub dan kagum atas keagunganMu wahai sang Illahi.
Ibarat negeri para sufi, antara angin dan kabut, diantara deru dan debu.
(Mantar, 21:54, 310514)

Desa Mantar berada disebuah dataran tinggi di kecamatan Seteluk, KSB. Penduduk Mantar berasal dari berbagai suka bangsa, arab, jawa, portugis dll. Sejarah mencatat kedatangan mereka ke Bukit Ramoi karena kapal yang mereka tumpangi terdampar akibat cuaca buruk dan hempasan gelombang beberapa ratus tahun yang lalu..


Banyak hal menarik tentang Mantar beserta sejarah yang melingkupinya. Salah satunya adalah keberadaan albino. Jumlah mereka selalu 8 orang termasuk Ame sang pemeran film  Serdadu Kumbang yang juga mengambil lokasi syuting di Mantar. [] - 01

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru