Hikayat Cinta Aku dan Dia

Tak satu detik aku lewatkan, tanpa merindukan hadir mu.

Tak satu detik aku lewatkan, tanpa bayang-bayang air wajah mu.

Tak satu detik aku lewatkan, tanpa rasa damba untuk dikau cinta dan rindu.

Tak satu detik aku lewatkan, tanpa membayangkan ada di samping mu.

Tak satu puisi cinta yang aku tulis kecuali karena dirimu.

Demikian pula dikau yang tiada melewatkan detik tanpa merindu dan mendamba hadirku.

Aku tahu semua itu, aku tahu.

Hanya saja mereka tidak pernah sadar akan betapa kuatnya cinta dan betapa lemahnya harta dan tahta.

 

Engkau adalah cinta dan aku adalah pendamba.

Engkau adalah cinta dan membalas aku punya cinta.

Engkau adalah rindu dan membalas daku punya rindu.

Engaku adalah cinta dan pencinta bagi ku.

Engkau ikhlas memberi ku cinta namun sayang keadaan tiada berpihak untuk kita.

Kita pernah bermimpi, hidup bersama dalam ikatan cinta dan sebuah keluarga.

Kita pernah bermimpi, hidup bersama mengarungi suka dan duka.

Sayangnya, mimpi itu harus karam terjang kesombongan mereka.

Sayangnya, mimpi itu harus terkubur bersama angkuhnya tembok pemisah yang disebut kasta.

 

Kekasih ku, kita memang tidak akan pernah bersama di dunia yang dipenuhi perhiasan harta dan tahta.

Kekasih ku, kita memang tidak akan pernah menyatu di dunia yang hanya menjujung pangkat dan kehormatan belaka.

Sabarlah kekasih ku, cinta kita abadi dan akan menyatu di alam baka.

Sabarlah kekasih ku, kita pasti akan bersatu: bukan di sini, tetapi di alam yang abadi dan lebih sempurna.

Jangan bersedih sayang, aku tahu bahwa dirimu juga sangat mencintai daku.

Jangan bersedih sayang, aku tahu bahwa dikau juga sama dengan diriku.

Tengadahkan tangan dan berdoalah untuk ini cinta.

Tengadahkan tangan dan rendahkan hati kepada penguasa cinta.

Mari kita bermohon dengan linangan air mata.

Mari kita bermohon, semoga cinta kita kekal dan tiada pudar ditelan masa.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru