Jelajah Sangeang bersama teropong

dulu kudengar namamu, menghadirkan imajinasi
sekalian kusibak nuansa aorta kata sangiang api
membara dalam ubun-ubun kemudian menjalar menuju hati
sangeang menyala terasa seantero sepi pun terbantai
ah, di manakah Sangiang itu berdiri
di atas daratankah atau di ujung tepi pantai?

Jelajah Sangeang hadirkan dentuman tanpa paksa
karena penggelandangan imajinasi pun tiba
tanpa teropong, berdiri tegak di atas samudra
tersaksi tanpa harus berimajinasi untuk menjumpainya
dan kini, jumpa darat pun terlaksana
Sangeang gunung api berdiri kokoh di atas samudra

Sangeang tanpa teropong
seperti dulu, mantra api terkalahkan air jampi
sedang kini, mantra api menyala tertiup mantra angin mbeliung
mantra air pun terkalahkan karena namamu lagi booming
digelar anak cucumu yang sudah merasa pandai
membaca sejarah peradaban bangsa tanpa henti

(Usman D.Ganggang) Jakarta, 12/07/2015.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru