Pupuh Pucung Baru Jari

Delapan hari beredar masa

Pelawangan menjadi saksi pertemuan orang-orang terkemuka

Kemarahan tidak dihenti jua

Rinjani bermuram durja

Rengganis tiada henti meniteskan air mata

Komalasari marah berkalang duka

Puteri Tunjung luapkan kegeraman-nya

Baru Jari pucung menyapa nusantara

Umat terus menyebar berita

Asap mengepul, lahar muncerat hebat

Debu menutup pulau dewata, separuh Lombok dan pulau Jawa

Penguasa Rinjani tidak kunjung iba

Mereka bersedih dan meneteskan air mata

Mereka muak atas kebiadaban umat di dekat mereka punya singgasana

Mereka bertasbih dan memohon agar Tuhan turunkan bencana

Jelas, jelas, sungguh jelas Tuhan murka atas kelaliman umat manusia

Jelas, jelas, sungguh jelas Tuhan murka atas ulah umat yang menghancurkan nilai-nilai agama

 

Rengganis tiada henti meneteskan air mata

Komalasari marah berkalang duka

Puteri Tunjung luapkan terus kegeraman-nya

Baru Jari pucung menyapa nusantara, perlambang murka Yang Maha Kuasa

Sangkareang dan Rinjani terdiam saja

Sagara Anak, geram menahan lupan air-nya

Pengulu Alim terus memutar tasbihnya

Mangku bumi tiada daya tuk berbicara

Gajah Mada hanya terdiam sambil memegang gada

Tengku Sait sibuk menulis pupuh dengan bijaksana

Aji Mas Pangeran tersu lantunkan pupuh gurisa

Ida Ayu memohon belas iba

Tuan Jero menyesali perbuatan umat-nya

Tuan Ngurah sama juga

Batara Guru tersenyum pilu di pertapaannya

Wali Songo terus tafakur dan berdoa

Dewi kartika dan orang-orang pilihan di nusantara, ikut memohon belas hiba

Sayang-sayang, doa Rengganis tiada tandingnya

Dengan tegas sang Dewi Rinjani bersabda:

“Biarkan saja, biarkan saja tuhan murka, biarkan saja Baru Jari Pucung munceratkan laharnya, supaya umat menyadari kesalahannya, supaya manusia menjaga adat budaya dan agama-nya”.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru