Sajak Seribu Kali Hujan

seribu kali hujan, seribu kali pula cinta datang serupa kembang

pohon-pohon basah dan daun mewangi. hidup kita adalah percik bening yang berubah warna oleh waktu. merah ketika senja menyala, lalu berkabut saat langit mengucurkan darah leluka. 
seribu kali hujan kita selalu pulang ke ruang yang sama. membaca gerak angin yang mengibarkan bendera kecil di ujung perahu
lalu kita berlayar tanpa beban. entah kemana arah cinta mengantarkan
seribu kali hujan, kita bacakan kembali doa-doa para pelaut
yang berlayar dengan mencium kening kembang
lalu membawa wewangi
menyeberangi biru yang selalu mengancam
seribu kali hujan, sayapku basah dan tertahan untuk terbang

Mataram November 2015

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru