Isyarat Semesta

Bertiup angin dari barat daya, datangnya membawa berita, perang antar agama merampas hidup bayi-bayi tidak berdosa.

//

Burung angsa berbaris mesra menembus udara, tiba-tiba mereka berserak di awan jingga, ledakan rudal dan suara gencantan senjata buyarkan kemesraan mereka, tangisan bayi diantara mayat orang tua dan saudara-saudaranya hentikan kepakan sayap mereka.

//

Air mata langit linangi buana, banjir dan longsor di mana-mana, gelombang tsunami hancurkan desa hinga kota. sepertinya Yang Kuasa sedang murka sebab manusia yang ciptakan perang dengan mengatasnamakan_Nya.

//

Pelan langkah sang surya, cukup lama ia bertengger di posisi atas kepala, ia bersinar dengan terik-nya, air mata langit disapunya tanpa sisa, menyusutlah air samudra, tanah subur pecah jua, kemarau membabi buta, lapar dan dahaga ahiri hayat sebagaian manusia. Sepertinya, yaa sepertinya itu juga bagian dari murka Sang Pencipta atas ulah manusia yang sulit berdamai dengan bumi dan hamparan hutan-nya.

//

Semilir angin membawa seokor dara mendarat di atas tanah

Berlinang air mata ia gerakkan lidah di selah paruh:

“Apa indah-nya berbantah-bantah; apa nikmat-nya saling memfitnah; apa untung-nya, meluncurkan rudal tanpa arah; apa upah-nya, subrukan dendam di atas bumi yang penuh anugerah ?; tidak ada, malah itu timbulkan masalah_membuat kesatuan terpecah belah.

//

Lebih baik kita tancap dan tegakkan bendera putih, ucapnya tengadah.

_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru