Bunglon

Lidah-lidah menjilati setiap ujung perpaduan demi mencari kesepadanan.

Benar saja, seperti menjilati penerimaan, mengaung ia menunjuk diri paling berani bahwasanya tak ada seorangpun yang mengiringi.

Aku hanya berdoa ketika saatnya aku ingin menyaksikan bagaimana lidah itu kan berbalik ataukah menjilati lagi hingga kering dan terus begitu hingga emisan menunduk diri.

Tuhan menyaksikan bagaimana pendongakan wajah lalu menyamping sementara lupa tergrogoti dekapan hangat saat penghujan. Seakan akan lupa hanya dibuat buat hingga saatnya takdir sudah tak menatap.

Dia garis-garis bunglon ataukah si metamorposa dengan lidah yang tak berhenti menjulur hingga metamorposa menjadi bagian penting sampai saatnya kau tertunduk dan aku tertunduk dan kita katakan "aku tetap mencintaimu, hanya saja luka terlanjur mencirat dan kita tak akan pernah bisa di deskripsikan" lalu kita katakan lagi "ini jalan Tuhan untuk kita diajarkan kasih sayang". Lalu kita akan terus saling merindukan. []

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru