Pesta Yang Menyakitkan


Pesta yang Menyakitkan

Waktu itu.
Saat kita merayakan pesta kemenangan atas ikatan asmara yang terjalin.

"Begitu bahagia kurasa!
Walau tak ada musik country yang mengiringi kita berdansa hingga larutnya malam.
Tak pula ada hidangan dan segelas bir sebagai media pembuka.
Kita merayakan dengan suasana hening.

Lebih hening dari malam-malam kemarin.
Iyah, pesta selalu identik dengan keramaian.
Tetapi tidak dengan pesta malam itu.
Yang hadir?
Yang jelas bukan keluarga,

Bukan pula sanak dan saudara,

atau tetangga samping rumah.

Hanya aku dan dia.
Sebuah perayaan kecil yang cukup melelahkan.

Tapi moment yang takkan luput oleh waktu.
Kita begitu menikmatinya dengan wajah penuh mengkhayati.
Kedua telapak jari saling meremas penuh hasrat saat kita berdansa.

Dan waktu itu
Satu-satunya nada yang mengiringi hanyalah desahan nafas yang tak beraturan.
Mungkin itu aransemen yang payah untuk sebuah pesta romance.
Tapi pesta tak berhenti di pertengahan malam.
Sunyi dan hening masih memberikan ketenangan.
Begitu jua suara jangkrik dan hilir angin di luar sana masih berkolaborasi

menciptakan harmoni yang cukup dawai.

Dan setelah hasrat cukup puas menikmati pesta

dan kucuran keringat karena berdansa.
Ternyata pesta mengingatkan engkau

Pada pesta yang pernah dirayakan di masalalu.
Tidak hanya sekali tetapi bahkan beberapa kali. “Ucapmu.
Ah, itu ungkapan yang paling menyakitkan dalam sejarah hidupku.

Dan bahkan ingin ku kutuk ungkapan yang keluar dari pengakuan tampa rasa bersalahmu.
Mengecewakan."sangat.
Menyedihkan?"Mungkin juga tidak!
Pesta haruslah membahagiakan walau terkadang akhirnya muncul kekecewaan dan air mata penyesalan atas pengkhianat dari kebersamaan yang begitu dalam.

Begitulah demikian.
Terkadang manusia hanya menginginkan sebuah pesta tapi setelah selesai acara yang terlihat hanyalah kesunyian, keheningan, dan bahkan air mata yang mendera waktu malam.
Kemana?
Kemana orang yang berdansa denganmu dulu?
Ah, mungkin sedang istirahat, capek karena terlalu lama berdansa denganmu.
Ia juga sudah bosan lantaran terlalu sering berdansa denganmu dan pergi merayakan pesta di tempat yang lain juga pada orang yang baru.
Sudahlah. Pasti sekarang dia sedang mencari yang lebih mahir dalam berdansa? Oh tidak, ia terlalu bajingan untuk suasana pesta yang romance!

Aku merasa ingin lebih mengenalmu dalam imajinasiku dan bertanya dalam lamunanku. "sebodoh apa engkau dulu hingga mau mengundangya? Padahal di luar sana masih banyak lelaki yang layak untuk menghadiri dan merayakan pesta denganmu."Seperti aku!

Iyah aku!

Mari aku ajarkan berdansa tampa menyalahkanmu cara berdansa.
Lihat aku sekarang!!
Aku masih setia berdansa denganmu dan mendengarkan keluh-kesalmu sembari menghapuskan air mata penyesalanmu
Bahkan sampai pesta selesai aku masih setia menemanimu.
Membangunkanmu di pagi buta sambil mengeluskan pipi halusmu dari bekas tetesan air mata masalalu.
Cukup menyakitkan, tapi tidak melarutkan penyesalanku untuk tidak menerima undanganmu dilain waktu.
Aku akan selalu hadir dalam setiap pestamu walau sangat menyakitkan bagiku.
Hanya saja batin tersiksa ketika tau engkau pernah merayakan pesta dengan orang selain aku. Dan itu tidak hanya sekali tapi sudah beberapa kali. Ucapmu"
Mengapa kata (beberapa kali) itu tak bisa hilang dari memori ingatanku?
Akhirnya tidak hanya kau yang menangis tetapi juga aku.
Dalam tidurku
Dan dalam lamunanku mengingatmu.

Entah pesta mana yang lebih menorehkan bekasnya
Bahkan mungkin sampai nanti
Sampai pada detik-detik kematianmu.
Dan kini terkadang saat berjalanya pesta aku menangis dalam kebahagiaan.

Terharu? Bukan, tapi kecewaku yang mendalam!

Entah sampai kapan kecewa ini menghukumku?
Dan sekarang aku masih menunggu membandingkan perasaanku
pada perayaan pesta-pesta selanjutnya

Sampai ketemu pada perayaan pesta besar kita selanjutnya.
Pesta dimana aku akan meletakan kitab suci dan melafadzkan sumpah serapa dihadapan Tuhan untuk sehidup semati denganmu. Dan aku harap suatu saat nanti perasaanku tak seperti apa yang kurasakan sekarang
Tentang pesta
Yang sangat menyakitkan

 

 

Jempong, 27 Desember 2018

Hendra_W.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru