Bima 21 desember 2016

Fajar dikala itu yang berjubahkan awan hitam membawa tetesan hujan penuh makna 

Isyarat Sang penguasa jagad yang ingin bersua dengan manusia yang lupa 

Hujan itu membawa detik detik yang terlewatkan dengan sia-sia dalam bingkai penuh harap pengampunan

Aku manusia sama seperti dirimu, dimana ketika kemarau datang kau hujat tuhan pilih kasih

Ketika hujan datang kau bilang alam tak bersahabat, bukan alam yang tak bersahabat, tapi manusia yang tak bersahabat dengan alam

 

Hujan yang penuh makna, ia tak berkehedak, ia tak punya pilihan, ia tak punya hasrat untuk memilih, ia bahkan tak punya jawaban atas pertanyaan, siapa dan mengapa ia harus meluluhlantahkan kotaku?

Ditengah jubah awan hitam dan derasnya hujan yang bergandengan dengan badai kala itu

Alam memuntahkan kekecewaannya, kekecewaan itu berubah menjadi banjir, banjir yang menyapu bersih sisa puing-puing kedzaliman yang kokoh tertanam didasar tanah

Hujan membasahi bumi, air hujan menggenangi bumi yang tak berpohon

Air semakin meluap akibat lautku kau timbun dengan tanah, sementara aliran air kencingku tersumbat tertutup oleh proyek idealis busukmu

 

Hujan membawa air, air membawa banjir, banjir membawa air mata, air mata membawa derita, derita yang berhamburan bersama rumah-rumah dan kota ku yang telah luluhlantah

Derita yang membawa pergi mereka bertemu sang pencipta

kota tepian air, tapi sekarang telah menjadi kota tergenang air

Kota yang menampung ribuan pengungsi dimasjid-masjid setengah jadi

Kota yang menyekap suara-suara kebenaran, kota yang menyimpan seribu tanya.

Ya, Kau telah berhasil menjadikan kotaku, kota tergenang air.

 

Angin membawaku melintasi kota yang telah dipenuhi oleh lumpur dan harum sisa-sisa pasir besi

Genangan air mengantarkanku pada puing-puing kota yang telah luluhlantah

Fatamorgana memeperlihatkanku betapa menderitnya anak-anak itu ketika harus kehilangan rumahnya dan merasa lapar

Mereka kehilangan seragam sekolah, buku-buku mereka telah hanyut dibawa banjir sampai menuju kepantai yang kini telah ditimbun dengan modal.

 

Jangankan manusia, para binatang diatas gunung pun menangis melihat pohon-pohon mereka ditebang

Hutan kini telah tiada, kemana para binatang itu akan berteduh ? dan siapa yang akan menahan amarah hujan ? bukankan kau mengatakan hanya hutan yang mampu.

Lalu kenapa kau membiarkan mereka merusak alamku dan alam mu ?

Cukuplah dosa-dosa ku menjadi alasan Tuhan menghayutkan rumah mereka.

Cukuplah banjir telah membawa semuanya, jangan lagi air mata mereka membanjiri kota ini

 

Hentikan kegilaan ini, agar mereka bisa hidup tenang dibawa atap rumah yang mereka bangun sendiri

Agar mereka tahu bahwa tuhan tidak buta

Agar mereka tahu bahwa alam pun menangis.

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru