Tenggelam dan terbit

Rintih peluh bersahabat darah di ufuk barat sore itu, sisa terbit lalu tenggelam

Menari dalam luka kemenangan ratusan tahun kepala dibawah telapak kaki mereka

Kini terbayar setelah seantero jagad menyaksikan kemenangan mutlak dalam hati dan jiwa yang tertatih

Dunia bungkam, lalu Kini ia menjadi perkasa, kuat, kokoh dan tanggung.

 

Ribuan manusia setengah prajurit berlumur darah menuju puncak lalu berteriak parau hingga pecah gendang telingaku,"Ini tanah kemuliaan, Bima".

Cukup! Berhenti melangkah, berhenti tertawa dan berhenti berteriak

Itu hanya prolog ninabobo yang rapi disusun dalam kitab yang dikubur menjadi kerangka tak bernyawa

Kita hanya menjadi nota kesepakatan tanpa makna, terkikis, lebur, menghilang dan lenyap.

Seperti kehilangan cinta saat sedang basah, menari menangis di atas kubangan keserakahan

Air mata semakin lirih mendesah namun tak bersuara, tak berani berkata, bahkan untuk berpikir sekalipun.

Aku lebih memilih diam

 

Aku suka wangi pagi yang memaksa untuk mengirup aroma tubuh mantari sisa tenggelam kemarin

Mentari yang siap menggasak siapa saja yang bimbang untuk memilih hidup atau mati, tetap atau maju, mundur atau melangkah, berjalan atau berlari, rusak atau baik, hilang atau nampak

Kini mentari kembali terbit di ufuk timur, sinarnya senyap di pelipis bumi sambil bersua dengan alam di atas horizon

Ini belum terlambat, ini masih pagi untuk kembali bercermin.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru