Di Muara Tidak Bernama

Sembilan belas tahun lalu
ku pandang wajah lugu
wajah itu membakar sukma remaja ku
terbakar, terbakar aku
tumbuhlah akar, benih tumbuh berpacu waktu
ku tepis, coba ku bunuh benih itu
sayangnya, wajah lugu bersemayam dalam khayal biru
benih itu tumbuh subur, daun dan akarnya tumbuh berpacu
tak terhitung waktu, mendambanya sungguhlah pilu
lidah seakan kaku, jika hendak ungkapkan perasan itu
ku hampus dan terus ku coba menghapus, namun cinta terlanjur berpacu
matilah aku di dalam damba ku, sedang ia tidak tahu itu

Habis sudah separuh waktu
begitu lama terpisah ruang dan waktu
rasa damba terus menyelimuti, jiwa serasa sakau
takdir datang menjerumuskan ku, jatuhlah aku dalam perangkap pilu
jauhlah sudah harapan bersatu, putus asa bertarung rindu
rindu bertemu wajah lugu yang bertahun-tahun hidup di ulu kalbu

Pilu kisah cinta ku
rasa damba meluluh lantahkan hidu ku
putus asa menyelimuti hari-hari ku
pemilik wajah lugu tak pernah tahu keadaan ku

Habislah sudah separuh waktu, mendamba tanpa ditahu
hanya bait-bait puisi tempat ku ceritakan semua itu

Di tengah keputus asaan 
waktu mempertemukan ku
api rindu membakar hati ku
terbakar dan menjadi abu tanpa ia tahu, hal itu tidaklah elok bagi ku
kepadanya ku ceritakan kisah pilu
di hadapannya ku ungkapkan rasa damba yang menyiksa ku
dia tidak terima hal itu
dia tidak mau mengobati rindu yang begitu lama menyiksa ku
membeku, hancur sudah segenap asa itu

Cukup lama waktu berlalu
aku coba meminta untuk ia menjadi pengobat sakau
di penghulu hari ku ajak ia bertemu
di danau biru ia meluangkan waktu
didengar segenap keluh kesah dan cerita pilu dari bibir ku
entah dari mana air mata menghias pemilik wajah lugu 
dan kesepakatan terucap dari bibir tipis berhias gincu
serasa bermimpi di waktu itu
sungguh senja itu aku serasa berada di langit biru
ia sanggup menjadi kekasih yang akan mengutkan ku, yang akan terus berusaha mencintai ku di balik tembok kekerdilan tradisi sosial aturan tak baku

Danau Biru, di sanalah ia mulai belajar menjadi bagian dari hidup ku dan ahirnya benar-benar menjadi penyayang ku
dari tempat itu, ia mulai mengajak ku menulis kisah baru
kisah perjuangan dia dan aku
berjuang melawan kesombongan tradisi sosial yang menjadi tembok penghalang antara ia dan diriku

Rasa damba berganti jua
berganti bahagia yang tiada tara
sepasang tangannya, siap membelai, merawat ku dalam sakit yang mengancam nyawa
dia berjanji; tidak akan pernah jemu walau aku terkulai dan ahirnya menutup mata dalam peluknya

Kini aku bukan lagi sang pendamba berbalut iba
enam lebaran, genap bersatunya rasa
bahagi ku tiada terkira walau terkadang air matanya menganak sungai sebab tajam dan kasar lidah mereka yang menolak jalan takdir aku dan dia
bahagia ku akan sempurna, teramat sangat semputna_jika tuhan menyatukan aku dan dia dalam ikatan janji suci pelebur batas nina mama

Di hari bertajuk cinta, rasa ingin ku berkumpul bersamanya
bercerita tentang bahagia
bermanja di atas pangkuannya
menulis puisi cinta bersama-sama
melantunkan doa dengan ucapan yang sama, "tuhan, satukanlah kami dalam ikatan janji suci pemersatu jiwa dan raga"

Sayang, ini cerita
aku tulis di muara tidak bernama, juga di lembaran hati dan sumsum kepala
ini cerita, aku tulis tanpa nada duka, tanpa air mata, tanpa sedikit kecewa

Sayang, tetaplah kuat
gelombang tidak akan mampu menelan kita
tetaplah tenang, setenang air Danau Segara Anak_ tempat dimana mereka tumbuhkan akar-akar kebencian dan nyalakan amarah atas kedekatan kita
Sayang, berdoalah

Sayang, genap sudah enam lebaran kita berkumpul dalam cawan asmara
cukup sudah bersembunyi dari keangkuhan mereka

di tengah suasana takbir hari raya keenam kita satukan rasa, mari kita siarkan kepada mereka; tentang cinta yang tiada batasnya, tentang sekenario tuhan yang tengah kita mainkan di panggung opera bertajuk cinta; tentang takdir tuhan yang senantiasa menyertai hidup setiap ciptaanNya
sudah waktunya kita melenggang di hadapan mereka
sudah waktunya mereka tahu betapa ketetapan tuhan tidak bisa dirubah oleh keangkuhan seisi semesta
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru