Demonstrasi Demokrasi

Turun ke jalan beramai-ramai. Berteriak lantang lalu mencaci maki. Bakar ban dan melontar seperti bagian rukun haji. Setelah bosan, masa berubah aksi. Merusak dan ahirnya berseteru dengan ABRI dan Polisi. Itu sudah menjadi tradisi demokrasi bangsa ini

Demonstrasi: katanya untuk menyampaikan aspirasi, lohhh kok peserta aksi berbangga mengangkat tulisan-tulisan kalimat tidak berbudi pekerti. Demonstrasi harusnya menjunjung budi pekerti, bukan merusak martabat demostrasi.

Demonstrasi: sedikit-dikit demostrasi, hujatan; aksi anarki. Katanya, demonstrasi tuk cari solusi, eeeeeh ujung-ujungnya masalah bertambah lagi. Achhhh, sungguh ngeri-memperihatinkan sekali.

Demonstrasi atas nama demokrasi. Yaaa, demokrasi berasas anarki: itulah yang terjadi di tanah pertiwi. Kenyataannya demonstrasi kerap ditunggangi segelintir organisasi yang butuh reputasi dan kursi. 

Demonstrasi terus mengatasnamakan rakyat melalui gerakan mahasiswa yang mudah disulut emosi dan gampang terpropokasi. Atas nama rakyat, mahasiswa dijadikan pionir memasang ranjau-ranjau reformasi. Pada ahirnya ranjau-ranjau itu membunuh mereka sendiri; memporak-porandakan kesucian demokrasi; menghancurkan karakter demokrasi bangsa ini; merusak martabat pancasila dan ibu pertiwi.
_By. Asri The Gila_

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru