Tembakau, Tetesan Air Mata Yang Pahit

Engkau melindungi dari haus, lapar dan dahaga dan kekurangan lembaran - lembaran kertas Rupiah.
Ketika cahaya matahari berkelana dari langit yang terik,
Tiada terlihat kicau bahagia hari ini wahai daun hijau jadi kuning emas.

Penghujung September dan awal oktober mulai berkemas untuk meninggalkan lebarnya si daun hijau,
Hari-hari berkumpul menanti rupiah tembakau.
Menetas air yang pahit 
Penuh rasa kecewa

Helai demi helai tanggal dan
Tumbuh subur tanpa yang nyata
Siap menyergap senyum
Menanti waktu di puncak hari 

Engkau ingin terjaga 
Tubunya letih lelah pecah
Kini engkau menjadi bahan pemikiran baru dengsn pelit lalu menjerit berharap rupiah dari si daun emas.


Diam-diam tersenyum penuh makna
Terkubur di tengah keringat tembakau tua
Yang menjanjikan kenangan makna 
Persis waktu lalu 
Ketika masa lalu penuh bahagia

Tembakau harapan bagi kami
Tak berbiji senyum atau permata
buta atau engkau melihat 
sejenis bayang-bayang
Yang terselip oleh hasil sinar yang agak samar

Advertisement

Artikel Terkait

Advertisement

Artikel Populer

Artikel Terbaru